oleh

KPU Tetapkan 3 Kader Muda NasDem sebagai Legislator

-Politik-64 views

Medan (Pewarta.co)-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Medan telah menetapkan tiga kader muda Partai Nasional Demokrat (NasDem) sebagai legislator.

Loading...

Ketiga legislator muda periode 2019-2024 itu merupakan bagian dari 50 orang yang ditetapkan pascapemilu Tahun 2019 melalui rapat pleno pada hari Rabu 14 Agustus 2019 kemarin.

Mereka adalah Habiburrahman Sinuraya (23), Tengku Edriansyah Rendy (27) dan Afif Abdillah (28) yang selama ini berkecimpung di dunia bisnis.

Bagi ketiganya menjadi anggota dewan yang resminya akan dilantik 16 September 2019 mendatang adalah pengalaman baru.

Meski tak bisa dilupakan, bahwa ketiganya memiliki ‘guru’ politik yang berasal dari keluarga sendiri.

Ya, sebut saja Afif Abdillah yang merupakan putra mantan Wali Kota Medan, Abdillah. Saat ini, Afif juga menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kota Medan.

Afif mengaku bersyukur bisa terpilih dan mendapatkan kursi di DPRD Medan.

“Alhamdulillah setelah ditetapkan kursi untuk angota dewan terpilih, ke depannya kami harus menyuarakan aspirasi rakyat. Kalau cuma mewakilkan rasanya belum cukup perjuangan ini kami mulai. Apalagi, saya baru pertama kali menjadi anggota dewan. Mudah-mudahan apa yang kami dapatkan saat kampanye seperti aspirasi dari warga bisa saya perjuangankan dan membawa Kota Medan jadi lebih baik lagi,” ungkap Afif yang nyaleg di daerah pemilihan (Dapil) IV ini.

Afif mengatakan inginnya langsung menyuarakan aspirasi warga dan langsung bekerja di awal. Namun, dia mengatakan sebelumnya tentu kelengkapan di dewan harus di selesaikan.

“Setelah ditempatkan di komisi barulah masing-masing memperjuangkan,” timpalnya.

Afif mengakui belajar politik dari orang tuanya.

Ia juga mengungkapkan pesan dari sang ayah.

“Kalau pesan khusus dari ayah yang pasti amanah ini sangat besar itu yang saya dapatkan dari orang tua. Setelah dilantik setiap kesulitan masyarakat harus jadi tanggung jawab kami semua. 50 orang termasuk di dapil saya, apapapun masalah masyarat di dapil saya adalah masalah saya. Tidak boleh ada satupun, kalau ada yang menderita berarti saya yang salah, sangat berat memang. Tapi insyaallah dengan amanah ini bisa lebih baik,” tegasnya.

Setelah ini, Afif pun mundur teratur dari bisnis yang dilakoninya selama ini di bidang tekstil, travel juga restoran.

“Harus ditinggalin. Sudah ada sistem berjalan, sudah ada direksi masing-masing,” ucapnya.

Selanjutnya ada Habiburrahman Sinuraya, yang merupakan putra dari Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Kota Medan, Drs Rusdi Sinuraya.

Selama ini, Habib aktif di beberapa organisasi juga partai.

Namun, di usia muda, dia juga dikenal karena usahanya bidang pertambangan, reklamasi pantai hingga beberapa toko sembako.

Habib jujur mengakui pengalamannya sebagai politikus masih sangat sedikit dibanding seniornya seperti Afif Abdillah.

“Tapi di usia muda ini, saya ingin menunjukkan ke masyarakat bisa memberikan ide-ide untuk Kota Medan. Di usia yang muda ini saya tanamkan dalam diri saya enggak ada yang enggak bisa,” ungkapnya.

“Anggota dewan ini adalah mandat bukan pekerjaan. Ini mandat dari rakyat yang diberikan kepada saya. Kalau pekerjaan itu kan bersifat tetap, kalau mandat ada masa periodenya lima tahhun. Jadi setelah mandat ini habis, msyarakat bisa memilih lagi, mengevaluasi apakah kami bisa dipilih lagi apa enggak,” lanjutnya.

Habib menjelaskan sebelumnya pernah ikut organisasi seperti IPK juga masuk beberapa partai lainnya, NasDem adalah partai ketiganya.

Dia mengatakan setelah terpilih, maka semua usahanya dialihkanya ke sang adik untuk meneruskan bisnis.

Habib lantas menceritakan pengalaman suka duka saat kampanye.

“Ini pertama kali saya jadi masuk angota dewan. Sebelumnya saya murni pengusaha. Ini partai ketiga saya gabung. Ranah politik kalau saya bilang kalau kita bawa hati, kejam,” timpalnya.

Saat pencalonan, Habib menceritakan berada di urutan paling bawah nomor urut 12.

“Bisa dibilang saya agak sedikit underdog,” tambahnya.

Pengalaman cukup melelahkan dialami Habib saat kampanye di saat masyarakat terkotak-kotak soal calon presiden 01 dan 02, ditambah lagi partainya pengusung 01.

“Saat kampanye dapil V di kawasannya pendukung 02, ada sedikit tantangan bagi saya. Ada juga yang menolak. Khusus di dapil V, hampir 50 persen tidak memilih warganya. Warga lebih memilih capres tapi tidak caleg. Kertas suara yang caleg enggak dipilih, dimasukkan saja (ke kotak suara),” kenangnya.

Pengalaman lain adalah saat harus ikut letih dan deg-degan dalam proses penghitungan suara mulai dari Hotel Grand Inna bersama KPU juga di kecamatan.

“Betul-betul terasa capek, letih. Kita sama anggota tidur di lantai sama kawan-sama semua jabatan ini beda cuma simbol,” ucapnya.

Beruntung, sebagai anak muda, Habib mampu memanfaatkan jaringan muda, baik dari pertemanan juga kawan kuliahnya di Polmed hingga mendapat 4906 suara.

Selain waktu, lelah, Habib juga membeber biaya kampanye yang wah yang digelontorkannya.

“Biaya kampanye saya rasa ada Rp1 miliar, paling besar biaya kampanye juga saksi,” tukasnya.

Dikatakan Habib, dirinya bersama para anggota muda terpilih DPRD Medan sudah sempat saling bicara menelurkan ide bagaimana anggota dewan kali ini lebih inovatif seiring era 4.0, dengan memanfaatkan Youtube dan Instagram untuk berbagi informasi ke masyarakat.

“Di sini generasi milenial program dan ide ini sangat dibutuhkan. Di saat teman se usia kami banyak yang masih main-main, ya mungkin karena orang tuanya mapan. Tapi kami di sini mengedukasi anggota dewan ini adalah mandat,” jelas alumni MAN 2 Model ini.

Habib tak menampik belajar politik dari orang tuanya, terkhusus ayahnya Dirut PD Pasar Kota Medan, Rusdi Sinuraya.

Ada yang menarik dari kisah Habib, sebab ayahnya sempat lima kali ikut pencalonan anggota DPRD Medan tapi tak pernah lolos.

Sementara itu, dia sekali langsung jadi.

“Saya belajar politik dari orang tua. Sebenarnya ini, pertama orang tua yang nyuruh, ‘udah mainlah (nyaleg) kita dukung, kaupun ada pekerjaan kalau enggak lolos’. Karena saya mau mebanggakan orang tua ya mainlah. Ayah saya Dirut PD Pasar, ya inilah namanya rezeki anak, orang tua saya lima kali calon enggak dapat, dari partai berbeda. Rezekinya di saya,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Meski tak pungkiri terkadang masih ingin nongkrong bareng teman-teman se usianya, namun Habib juga mengaku senang bisa lolos jadi anggota dewan.

“Alhamdulilah hasil berusaha sangat-sangat memuaskan. Teman-teman pasti bangga,” ungkapnya.

Yang terakhir adalah Tengku Edriansyah Rendy.

Namanya tak asing lagi, karena sepak terjangnya di persepakbolaan Indonesia.

Tahun 2018, Rendy menjabat sebagai manajer PSMS di Kompetisi Liga 1.

Saat itu, dia adalah manajer terbuka di Liga 1 pada usia 26 tahun.

Rendy juga bukanlah wajah baru bagi kota ini.

Dia adalah putra sulung dari Wali Kota Medan, Dzulmi Edin.

Rendy menyebut terjun ke politik pada usia muda karena memang sudah niatnya sejak di bangku kuliah.

“Ini sudah ada niatan saya dari hati setelah saya lulus kuliah untuk menjadi Anggota DPRD dan politikus. Ditambah lagi orang tua juga support terhadap niatan dan pilihan saya untuk menjadi Anggota DPRD dan politikus,” ujarnya seperti dikutip dari laman pojoksumut.

Sejatinya sebagai pengalaman pertama nyaleg, Rendy tidak menyangka bisa langsung terpilih dari Dapil II.

“Semua sudah diatur oleh Allah SWT. Saya tidak pernah memprediksi akan terpilih atau tidak terpilih, yang saya lakukan pada saat masa kampanye sampai terpilihnya saya hanya berusaha semaksimal mungkin agar terpilih menjadi Anggota DPRD Medan,” jelasnya.

Soal apa yang akan dilakukannya setelah pelantikan nanti adalah berusaha mewujudkan apa yang menjadi janji kampanyenya di dapilnya.

“Saya akan berupaya untuk merealisasikan/menampung aspirasi masyarakat Kota Medan baik yang sudah tersampaikan kepada saya dan yang akan tersampaikan kepada saya nantinya,” pungkasnya. (PS)

Facebook Comments
Loading...