oleh

“Te-Em-Je” Mesjid Agung Medan Direspon dan Disambut Hangat

-Sumut-80 views

Medan (Pewarta.co)-Teh manis jamaah atau populer disebut “te-em-je” yang tersedia di teras depan Mesjid Agung Medan direspon dan disambut hangat.

Loading...

Te-em-je itu disuguhkan setiap hari usai (bakda) salat Subuh dan Asar di mesjid kebanggaan Sumatera Utara (Sumut) ini.

Ketua Bidang Kemakmuran Mesjid Badan Kesejahteraan Mesjid (BKM) Agung Medan H Yuslin Siregar menjawab wartawan, Kamis (8/8/2019) menyatakan bersyukur program keumatan ini disambut gembira oleh jamaah, termasuk generasi muda yang bekerja di sekitar kawasan Mesjid Agung di Jalan Pangeran Diponegoro Medan tersebut.

“Alhamdulillah, terutama jamaah bakda Ashar mengambil sendiri minuman teh manis panas tersebut dari tempat yang disediakan (semacam dandang stainless steel ukuran besar berkeran putar),” ujar Yuslin penggagas “Te-Je-Em” yang khusus bakda Asar sudah berlangsung sekira 3 pekan ini.

Penyediaan teh manis panas ini, jelas Yuslin bukan memakai dana tabung infak dan tidak memakai anggaran BKM.

Alhamdulillah ini sepenuhnya dari swadaya pengurus BKM selaku pelayan jamaah,” ujarnya seraya menyatakan pihak BKM tetap membuka diri bagi para donatur yang ingin berinfak bagi kebutuhan dan kenyamanan jamaah.

Yuslin didampingi fungsionaris lainnya H Indra Utama, H Donal Sidabalok, H Daud Syah Munthe, H Abdullah Matondang, Ir H Mahmuzar Nasution alias Totok dan H Syofyan Yahya mengakui pihaknya di BKM hakekatnya adalah pelayan yang setiap saat harus memberikan keamanan dan kenyamanan bagi jamaah dalam beribadah ke mesjid.

“Jadi BKM itu harus bertindak sebagai pelayan agar jamaah yang ke mesjid nyaman berwuduk karena air cukup, suasana mesjid sejuk, ambalnya bersih dan wangi, kalau mereka haus ada minuman dan bagi yang berkebutuhan juga disediakan nasi bungkus umat secukupnya setiap hari bakda Zuhur,” ujarnya.

Sebagai salah satu ikhtiar dalam memakmurkan mesjid, lanjutnya peran serta fungsi seorang takmir domain akan lebih menentukan. Fungsi takmir tak ubahnya seperti pelayan para jamaah mesjid dan bukan penguasa mesjid.

“Takmir itu statusnya adalah pelayan jamaah, takmir bukan penguasa mesjid sehingga kita setiap saat Insya Allah berupaya membuat jamaah yang beribadah ke Mesjid Agung merasa aman, nyaman dan menyenangkan,” katanya.

Ditambahkannya, memakmurkan mesjid memang tidak mudah, tapi bukan berarti sulit dilakukan.

“Memakmurkan mesjid dengan berbagai kegiatan yang positif memang tidak mudah tapi bukan tidak bisa. Makanya harus didorong strategi-strategi yang dirumuskan oleh takmir dan pengurus mesjid yang lainnya,” tambahnya.

Sebagai pelayan jamaah mesjid, lanjutnya, seorang takmir harus memberikan perhatian yang lebih secara ikhlas khususnya dalam hal melayani segala kebutuhan yang berkaitan langsung dengan upaya pemakmuran mesjid.

Selain “Te-Em-Je”, sebelumnya juga fungsionaris BKM yang juga digagasi oleh H Yuslin Siregar mengadakan program ‘Nasi Ummat Mesjid Agung, Silahkan Ambil dan Isi’.

Disebut sebagai ‘Nasi Umat, Silahkan Ambil dan Isi …’ karena melalui program ini siapa pun yang membutuhkan dapat mengambil nasi bungkus tersebut, kemudian siapa pun yang ingin ikut berinfak dengan menyediakan nasi bungkus dapat mengisi ke rak tersebut.

Untuk kemudahan kepada para donatur, BKM dapat menerima sumbangan berupa dana Rp 12.500 untuk satu bungkus nasi, terserah mau berinfak berapa bungkus dapat diterima.

Program nasi bungkus ini merupakan sarana menunjukan bahwa Islam adalah kebersamaan dan kekeluargaan.

Suasana kebersamaan semakin kuat, geliat dakwah pun berjalan penuh semangat.

Diharapkan program Berbagi Nasi Bugkus ini dapat mempererat tali ukhuwah umat Islam, juga menjadi contoh guna memakmurkan mesjid. (ril)

Facebook Comments
Loading...