oleh

Kabar Gembira, Ketua SMSI Prakarsai Peluncuran Ruang Berita

-Nasional-460 views

Jakarta (Pewarta.co)-Kabar Gembira datang menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang akan berlangsung pekan ini.

Loading...

Kabar gembira tersebut menjadi isu hangat yang diperbincangkan oleh 337 pemilik media Siber.

Sebab, pada Rakernas III yang akan dibuka langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara di Jakarta pada Rabu 25 Juli 2018 mendatang, Ketua Umum SMSI Auri Jaya memprakarsai Ruang Berita atau lebih dikenal dengan News Room.

News Room tersebut akan diluncurkan pada perhelatan tahunan SMSI yang akan berlangsung hingga Jumat 27 Juli 2018.

Ruang Berita dimaksud nantinya menjadi tempat bagi jurnalis, baik itu reporter, editor, redaktur, dan produser, beserta dengan para staff lainnya untuk bekerja bersama-sama mengumpulkan berita yang selanjutnya dipublikasikan koran, majalah atau dipancarkan melalui televisi kabel  atau radio.

Dengan kata lain, alur kerja sebuah media dari mulai pengumpulan berita hingga mempublikasikannya di media massa dimulai dari tempat itu.

Sebagaiamana diketahui, dalam perkembangannya, News Room telah berevolusi hingga bentuk keempat yang dikenal dengan News Room Generasi 4.0.

“Sebelum bercerita tentang News Room 4.0, di sini saya akan terlebih dahulu memapaparkan mengenai tiga generasi News Room sebelumnya. News room generasi pertama merupakan alur kerja dengan banyak jurnalis, redaktur, dan banyak media massa. Dalam alur kerja ini, masing-masing jurnalis mengumpulkan berita untuk redaktur dan media massa yang spesifik. Bukan hanya spesifik secara jenis medianya saja, tetapi juga spesifik secara jenis beritanya juga, baik di tingkat jurnalis maupun di tingkat redaktur,” ujar Ketua Umum SMSI, Auri Jaya didampingi Sekretaris Jenderal SMSI, Firdaus.

Sehingga, lanjut dijelaskannya, News Room generasi pertama mensyaratkan banyak sumber daya manusia.

Sedangkan pada News Room generasi kedua tidak memerlukan banyak jurnalis yang spesifik terhadap media.

Jurnalis dituntut mampu membuat berita untuk berbagai media massa.

Sedangkan yang bertugas memilah berita dan bekerja spesifik sesuai jenis medianya adalah redaktur.

Sedangkan pada News Room generasi ketiga, strukturnya lebih ramping lagi.

Dalam alur kerjanya, tidak hanya jurnalis yang dituntut mampu membuat berita untuk berbagai media massa, tetapi juga sang redaktur.

Redaktur dituntut untuk mampu menguasai pengolahan informasi untuk berbagai jenis media massa. Tentu saja, alur kerja ini tidak mensyaratkan banyak sumber daya manusia.

“Sementara untuk news room generasi keempat atau 4.0 lebih canggih lagi. Selain tidak perlu banyak sumber daya manusia, sang jurnalis juga diberi kewenangan untuk langsung mempublikasikan hasil liputannya. Sedangkan tugas redaktur hanya memantau dan memberi masukan tentang apa yang ditulis sang jurnalis. Selain itu, tugas redaktur fokus memikirkan konsep media berkaitan dengan animo masyarakat terhadap informasi,” jelasnya.

Model News Room generasi keempat ini, kata Auri, juga akan sangat efektif bila ditunjang oleh divisi riset yang mumpuni.

Divisi riset ini tugasnya mengumpulkan berbagai data dan fakta yang terjadi di masyarakat. Sumbernya pun bukan hanya dari jurnalis semata, tetapi dari masyarakat, termasuk di dalamnya praktisi, pakar, peneliti, akademisi, hingga pemerintahan.

Masyarakat didorong untuk menulis dan memasukan kontennya ke dalam Content Management System (CMS) milik media.

“Dalam jangka panjang, hal ini sangat membantu media untuk menghadirkan konten-konten yang tidak hanya cepat, tetapi juga mendalam dan menyeluruh. Pada news room generasi keempat, pengendalian (controling) di redaksi dilakukan dengan dua metode yakni Pre-Treatement dan Post-Treatement. Pengendalian Pre-Treatement menitikberatkan peran redaktur untuk memfilter dan menyunting bahasa dan konten reportase. Jadi, semuanya ada di tangan redaktur.

Sedangkan pada Post-Treatment, peran redaktur hanya memberi kritik dan masukan terhadap reportase jurnalis yang telah dipublikasikan di media massa,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dalam Pre-Treatement, kebanyakan jurnalis bergantung kepada redaktur.

Terkadang, reportase yang diberikan jurnalis kepada redaktur, tidak ditulis dengan sebaik-baiknya karena jurnalis berpikir bahwa semuanya akan diperbaiki oleh redaktur.

Sehingga, seringkali kemampuan jurnalis tidak berkembang karena semuanya diserahkan kepada redaktur.

“Sedangkan dalam Post-Treatement, kemampuan jurnalis dipaksa untuk berkembang. Jurnalis dituntut membuat reportase sebaik-baiknya sehingga para jurnalis harus melengkapi dirinya dengan kemampuan berbahasa yang baik, pemahaman etika jurnalistik yang menyeluruh, serta pemaparan konten yang mendalam. Tingkat kepercayaan kepada jurnalis dalam news room generasi keempat sudah cukup tinggi. Jurnalis di news room 4.0 memiliki kemampuan yang baik dalam keredaksian dan apa yang ditulisnya bisa dipertanggung jawabkan kepada publik,” tambah Auri Jaya.

Konsep News Room 4.0 ini, disebutkannya, memang masih relatif baru namun sangat efektif diterapkan pada media yang tidak mampu mempekerjakan banyak orang.

Contohnya saja di Selandia Baru, sebuah media massa di sana hanya memiliki 30 orang jurnalis. Namun, media massa ini mampu menghasilkan 1.600 halaman konten dalam sepekan.

Sedangkan di Indonesia, media massa koran yang memiliki 500 orang jurnalis, hanya mampu

menghasilkan konten 32 halaman per hari atau 224 halaman setiap pekan.

“Dengan konsep news room generasi keempat ini pula, manusia tidak lagi dianggap sebagai sumber daya (resources), tetapi telah menjadi investasi. Sehingga ketika menjadi investasi, manusia lebih dihargai lantaran telah menjadi kebutuhan vital sebuah perusahaan. Analisis kebutuhan informasi di masyarakat pun, mudah diketahui bila media massa menggunakan konsep News Room generasi keempat,” sebutnya.

Hal ini, kata Auri, bisa dilihat dari kecenderungan konten dari masyarakat yang telah terkumpul di CMS milik media.

“Dengan kemudahan menganalisis kebutuhan informasi di masyarakat ini, media massa bisa dengan mudahnya membuat media baru yang lebih tematik. Karena bermain di tingkat kebutuhan masyarakat, modal dan iklan pun relatif mudah didapatkan,” tandasnya.

 

SMSI akan Luncurkan News Room Genarasi ketiga

Berdasarkan pemaparan Ketua SMSI di atas, memunculkan pertanyaan tentang model News Room seperti apa yang akan diluncurkan SMSI?

Merujuk pemaparan tersebut, untuk sementara SMSI akan meluncurkan News Room generasi ketiga.

Alasannya, masih minimnya ketersediaan database dan konten yang dimiliki di Indonesia.

Terlebih News Room 4.0 membutuhkan data dan konten internet yang terekam dengan baik.

Namun dalam perkembangannya kedepan, News Room SMSI akan menyiapkan divisi riset dan mengelaborasi dalam CMS yang dimilikinya sehingga bermetaformosis menjadi News Room 4.0.

Meskipun demikian News Room 3.0 yang digunakan SMSI akan dapat mengefektifkan sumber daya manusia.

Terlebih bagi pemilik media siber sudah tentu akan sangat terbantu dalam peningkatan kualitas konten sesuai segmentasi media siber di daerah.

SMSI News Room bukan menjadi kompetitor para pemilik media siber namun akan bersinergi dan bekerja untuk banyak media.

SMSI News Room harus bisa memutuskan bahwa sebuah berita memang tepat dan layak dipublikasikan di media tertentu.

SMSI News Room juga harus memastikan bahwa bahasa yang digunakan cocok untuk segmentasi media anggotanya.

Dan ini adalah teroboson yang spektakuler untuk memperkuat jejaring media siber. (ril/rks)

Facebook Comments
Loading...