oleh

Halal Bi Halal Ala AKBP Maringan Simanjuntak, Ulas Madu, Jembatan Suramadu Dibawa-bawa

-Nasional-117 views

Medan (pewarta.co) – Ulasan soal keaslian madu, kopi hingga pisang sale, Selasa (11/6/2019), berlangsung seru di ruangan AKBP Maringan Simanjuntak, Kasubdit Jahtanras Polda Sumut. Level keseruannya bak diforum ILC (Indonesia Lawyer Club).

Suara lantang AKP Eliakim Sembiring, tiba-tiba menggema di lorong gedung Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Poldasu. ”Mau ngapain kalian kemari? Mau merusuh ya?” teriak eks Kanit I Narkoba Polrestabes Medan itu, begitu melihat Pemred Pewarta.co, Chairum Lubis, Redpel Pewarta.co Rijam Siahaan dan Dedi Irwandi Lubis dan saya naik ke lantai 2 gedung. Kami berpapasan persis di depan ruangan kerja Maringan.

Loading...

Kami, sudah hafal betul tipikal perwira polisi dengan suara khas batak kental ini. Selorohnya tinggi, tap hatinya baik. Itu kata teman-teman jurnalis lain yang juga dekat dengan Akim.

Usai ‘menggertak’, kami pun dipersilakannya masuk ke ruangan Kasubdit Jahtanras. ‘Ah memang lah kalian ini, datang hanya untuk mengganggu saja,” kata Akim lagi.

Di ruangan, mantan Kabag Sumda Polrestabes Medan tampak duduk ditemani Kanit VC (Judi Sila) Kompol Hendra Eko. Keduanya menyambut hangat kedatangan kami. ”Sekalian ngantar madu, kopi dan pisang sale, dalam rangka halal bil halal,”kata Chairum Lubis.

Bak seorang sales marketing handal, Wakil Ketua SMSi (Serikat Media Siber Indonesia) wilayah Sumut ini langsung mempromosikan oleh-oleh bawaanya saat mudik ke Langsa. ”Ini semua asli khusus buat bapak Kasubdit,”kata Ketua Grup Pewarta Polrestabes Medan itu.

Promosi ini rupanya memantik penasaran Hendra Eko yang mantan Kapolsek Medan baru. ”Asli, dari mana memang dapatnya? Paling beli dari sini-sini juga (Medan),”ucapnya.

Chairum tak mau kalah pamor. Dia bersikeras mengatakan, madu yang dibawanya adalah asli. Dia yakin, orang yang mendagangkan madu kepadanya tak akan berlaku curang. Madu yang dibelinya kadang didatangkan dari Riau dan Jambi.

Mendengar nama Riau dan Jambi, Hendra langsung menyambar. ”Waduh, jangan-jangan belinya dari Suramadu (jembatan di Jatim) ini, ya kan ya kan,” katanya sambil tertawa lepas. Karena nama jembatan Suramadu dibawa-bawa, Chairum no komen.

Karena Hendra terus mencecar pertanyaan madu didapat dari mana, Chairum agak mengerem argumennya. ”Ah, nanti belinya sama pedagang madu yang sering berkeliaran dekat stasiun bus tujuan Aceh saja, tapi bilangnya depan pak Kasubdit dibeli dari Aceh,” kata Hendra, sambil tertawa. Saat itu, Kasubdit Maringan hanya jadi pendengar dua orang ini beradu argumen soal madu. Sambil sesekali dia terlihat meneken berkas.

Chairum akhirnya mengerem argumennya. Dia mengaku, madu didapatnya dari seorang pedagang. Madunya didatangkan dari Pancur Batu. Kalimat ini pun memantik keusilan Hendra. ”Lha kan bener tebakan saya. Kemarin saya nelpon pak kapolsek Pancur Batu, saya nanya soal madu. Berarti ini madunya ya dari  pak kapolsek,” ucap Hendra, seolah memancing Chairum angkat bicara. Sontak saja, dia membantah. ”Madu ini saya beli, mana pula dari pak Kapolsek,”ucapnya sambil diselingi tawa.

Suasana sedikit mencair setelah Eliakim dan Hendra, berpamitan ada urusan dinas. Namun sebelum itu, Maringan menyuguhkan 4 gelas kecil kopi kepada kami. Rasa kopinya memang super sekali. Uwenak tenan.

Alhasil, tinggalah kami berlima bersama Kasubdit Jahtanras di ruangan sekira 6×8 meter persegi itu. Interiornya minimali. Meja kerja Maringan persis terlihat begitu masuk ruangan. Di dalam juga ada meja rapat bundar, mesin pembuat kopi, rak lemari dan kulkas.

Bak pakar madu sejati, eks Kapolsek Percut Sei Tuan itu pun mulai mengulas keaslian madu. ”Menandakan asli atau tidak gampang. Letak saja di rak lemari saya, kalau bersemut berarti bukan madu asli. Atau letak di kulkas saya itu (sambil menunjuk ke arah kiri meja kerjanya), kalau hanya mengental, tidak membeku, berarti madunya asli. Saya sudah banyak belajar soal keaslian madu. Saya hanya yakin madu asli untuk saat ini adalah madu Evi di arah Berastagi sana,”katanya. Kami pun hanya bisa mengangguk mendengar cerita Maringan. Seolah faham, padahal tidak sama sekali eheehehee…

Inilah cerita kami semalam saat berhalal bil halal dengan Kasubdit Jahtanras Poldasu. Sambutannya hangat… (red)

Facebook Comments
Loading...