oleh

Bantu Permodalan UMKM, OJK Targetkan 100 BWM Tumbuh pada 2019

-Nasional-26 views

Yogyakarta (pewarta.co) – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia umumnya banyak terkendala dari sisi pendanaan, pemasaran dan teknologi sehingga sulit mengakses dana ke lembaga keuangan formal seperti bank.
Untuk membantu permodalan bagi usaha mikro tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya mendorong pengembangan Bank Wakaf Mikro (BWM).

“Targetnya memang sebanyak-banyaknya, namun hingga akhir tahun 2019, OJK menargetkan 100 BWM,” ungkap Direktur Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) OJK Suparlan pada Pelatihan dan Media Gathering Wartawan OJK Regional 5 se-Sumbagut di Hotel The Phoenix Yogyakarta Kamis (12/9/2019).

Loading...

Kegiatan berlangsung hingga Minggu (15/9/2019) itu dibuka Direktur Hubungan Masyarakat OJK Kantor Pusat Hari Tangguh Wibowo. Hadir di sana Deputi Direktur Bidang Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) OJK KR 5 Uzersyah dan Kabag Humas OJK Kantor Pusat Dodi Ardiansyah. Pelatihan itu diikuti 53 wartawan dari Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, dan Batam.

Suparlan menjelaskan, bank wakaf mikro merupakan lembaga keuangan mikro syariah yang didirikan atas izin OJK dan bertujuan memberikan pinjaman modal usaha kepada masyarakat kecil yang belum tersentuh lembaga keuangan formal (perbankan). Pendirian bank Wakaf Mikro pun dilakukan melalui pesantren-pesantren yang telah mendapatkan izin dari OJK.

Disebutkannya, kriteria pesantren yang potensial yakni memiliki komitmen tinggi dalam membangun masyarakat di lingkungan pesantren, pimpinan pesantren harus memiliki pemahaman tentang keuangan syariah, di wilayah sekitar pesantren juga harus memiliki masyarakat miskin produktif. Serta mampu menyiapkan calon pengurus LKM syariah yang memiliki spirit dan kompetensi tinggi dalam mengelola keuangan mikro syariah. Pesantren juga harus memiliki social impact terhadap masyarakat.

“Bagi pesantren yang ingin membuat BWM dapat langsung mendatangi kantor OJK setempat dan akan disurvei. Pesantren harus memiliki dana Rp4,5 miliar dimana Rp1 miliar untuk operasional dan Rp3 miliar untuk pembiayaan,” tuturnya.

Menurutnya Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Hal itu lantaran saat ini, terdapat sekitar 800 ribu masjid, 31 organisasi massa Islam, dan 28 ribu pesantren di seluruh Indonesia.

Terkait pertumbuhan bank wakaf itu, kata dia, saat ini telah mencapai 52 BWM di 16 provinsi di Indonesia sejak didirikan tahun 2017 dengan jumlah akumulasi pembayaran yang disalurkan sebesar Rp24,99 miliar.

Dari 52 BWM itu, total pembiayaan yang tersalurkan per Juli 2019 mencapai Rp24,99 miliar dengan 19.543 nasabah dan 2.374 Kelompok Usaha Masyarakat Sekitar Pesantren Indonesia (KUMPI).

“Penyebarannya paling banyak berada di Pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Serang dan lainnya,” ujarnya.
BWM ini diharapkan mampu memberikan pembiayaan yang mudah dan murah bagi pelaku UMKM. Sebab, BWM memiliki empat karakteristik yakni pengelolaannya untuk kelompok, tanpa jaminan, imbal hasil setara tiga persen dan tanggung renteng.
Dia meyakini dengan imbal hasil tiga persen itu masyarakat bisa sangat terbantu. BWM juga memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pelaku UMKM serta pertemuan mingguan sehingga menjadi masyarakat produktif. (gusti/red)

Facebook Comments
Loading...