oleh

Menejer PT ABL Diadili Gelapkan Rp 396 Juta

-Hukum-37 views
Medan (pewarta.co) – Himawan Loka alias Ahui(58) General Menejer PT Agung Bumi Lestari(ABL) mulai diadili di Pengadilan Negeri Medan didakwa menipu dan menggelapkan uang rekan bisnisnya Rp 369 juta, Rabu(11/9/2019)
Dalam surat dakwaannya,JPU Dwi Melly Nova diwakili Febrina Br Sebayang menjerat terdakwa warga Jalan Perpustakaan Kelurahan Petisah Tengah itu melanggar pasal 378 dan 372 KUHP.
Perbuatan itu dilakukan terdakwa sejak 2015 hingga 6 Februari 2018 di  toko saksi korban Edwin di Jalan Brigjend. Katamso No. 198 A Kecamatan Medan Maimun.
Saat itu saksi korban Edwin  pemilik toko UD. Naga Sakti Perkasa( NSP) melakukan kerjasama dengan PT ABL yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Tebing Tinggi.
Kerjasama itu diantaranya UD NSP menjual pelastik asoi, bungkus nasi, tisue, pipet, tusuk sate, kotak gabus/streoform, gelas pelastik Aqua kepada PT ABL.
Sedangkan PT ABL menjual pembungkus nasi kepada CV NSP.
Adapun system pembayaran dalam kerjasama tersebut PT. ABL memberikan waktu sebulan kepada UD. Naga Sakti Perkasa untuk melakukan pembayaran pembungkus nasi diterima terdakwa yang  datang ke UD. Naga Sakti setiap bulannya.
Setelah ditotalkan, setiap bulannya saksi korban sudah melakukan pembayaran melalui rekening Giro Danamon, kemudian terdakwa menyerahkan bon faktur warna putih kepada saksi korban, tanda barang telah dibayar lunas, begitu juga sebaliknya, terdakwa juga membayar kepada saksi korban atas barang-barang yang diambil  terdakwa dari saksi korban.
Tahun 2014 sampai  Juli 2015 pembayaran masih lancar, akan tetapi sejak Agustus 2015 sampai  Februari 2018 terdakwa tidak ada lagi melakukan pembayaran terhadap barang yang diambil dari UD. Naga Sakti Perkasa.
Agustus 2015 saksi korban  melakukan penagihan kepada terdakwa pada saat terdakwa datang menagih pembayaran bungkus nasi, dan saat itu terdakwa mengatakan nanti dulu hitungan karena bon merahnya tidak kelihatan .
April 2016 saksi korban bertanya kepada Dirut PT ABL Andrian Suwito tentang pembayaran barang yang diambil PT. ABL.
Tapi Andrian Suwito mengatakan  tidak tahu , itu urusan terdakwa Ahui dan langsung mematikan telpon. Selanjutnya  Oktober 2017, Lim AinA als Aina selaku admin PT. ABL menghubungi saksi korban soal bon saksi  Rp. 600.000.000,
Mendengar penjelasan tersebut, saksi korban menghubungi terdakwa mempertanyakan tagihan Rp 600 juta tersebut. “Kenapa tagihan saya Rp 600 juta, kalian yang punya utang ke saya, bukan saya”, lalu terdakwa mengatakan “Nanti Saya cek ke Aina”
 Selanjutnya 6 Maret 2018 Komisaris Utama PT. ABL Rusli bersama terdakwa Ahui dan Fery Tandiono,Aina datang ke toko saksi korban untuk menanyakan  tagihan saksi korban sembari memberikan print out computer tagihan.
Karuan saja korban mengatakan  bahwa PT. ABL yang punya utang itu PT ABL, bukan saya”, lalu saksi korban berkata kepada terdakwa “Ini otak kamu semua, suruh saya sudutkan kernet dan sopir lagi “.
Namun saat itu terdakwa diam saja dan tidak mau ngomong apa-apa.
Belakangan diketahui bahwa terdakwa Ahui sudah menerima pembayaran secara cash dari korban tetapi terdakwa tidak menyerahkannya ke PT. ABL, sehingga sejak tahun 2017 sampai Maret 2018 barang yang diambil dari PT. ABL saksi korban bayar melalui supir atas nama Putra dan Erson secara cash.
Adapun total tagihan yang belum dibayarkan terdakwa sesuai  61 lembar bon fatur yang ada pada saksi korban sebesar Rp. 396.103.250,-  sehingga akibat perbuatan terdakwa tersebut saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp. 396.103.250, sesuai uang yang belum dibayarkan ke PT ABL. (TA/red)
Facebook Comments
Loading...