oleh

Diburon, Mujianto dan Tonny Sembunyi di Luar Negeri

-Hukum-351 views

Medan (Pewarta.co)-Perburuan terhadap Mujianto alias Anam dan Tonny Wijaya yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), masih berlangsung.

Loading...

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian, kedua tersangka kasus penipuan tersebut berpindah-pindah lokasi di Singapura dan negara lain

“Kita sempat mendeteksi kedua DPO itu di Singapura. Tapi belakangan kita monitor sudah pindah lokasi. Mereka pindah-pindah lokasi untuk menghindari kejaran pihak kepolisian,” kata Dirreskrimum Poldasu Kombes Pol Andi Rian,SIK melalui Kasubdit II/Harda-Bangtah Ditreskrimum AKBP Edison Sitepu,SH MH menjawab pewarta.co, Selasa (3/7/2018).

Mujianto alias Anam tercatat menjadi DPO/R/159/IV/2018/Ditreskrimum Poldasu dan Tonny Wijaya DPO/80/II/2018/Ditreskrimum.

Edison mengatakan, untuk menangkap kedua DPO tersebut, pihaknya masih terus meningkatan komunikasi dengan Mabes Polri dan Polda di Indonesia serta Interpol untuk mendeteksi agar keduanya dapat segera diadili.

“Kepada Imigrasi juga kita sudah minta bantuan untuk mencekal mereka dan menangkap DPO tersebut bila berada di wilayah kerja mereka,” kata Edison Sitepu.

Selain itu, Edison berharap bantuan dan peran serta masyarakat untuk menginformasikan kedua tersangka kepada aparat kepolisian terdekat, untuk dilakukan penjemputan.

Sebagaimana diketahui, Mujianto alias Anam dilaporkan oleh  Armen Lubis (60) pada 28 April 2017 dengan bukti laporan No; STTLP/509/IV/2017 SPKT “II”.

Dalam kasus yang sama, Armen juga melaporkan stafnya Rosihan Anwar karena telah dirugikan sekitar Rp 3 miliar.

Kasus dugaan penipuan itu berawal dari ajakan kerja sama dari Rosihan Anwar, staf Mujianto, untuk melakukan bisnis penimbunan lahan seluas 1 hektare atau setara 28.905 meter kubik pada 2014. Lahan itu berada di Kampung Salam, Belawan II, Medan Belawan.

Namun setelah lahan selesai ditimbun, Mujianto tidak menepati janjinya untuk membayar hasil penimbunan itu sebesar Rp.3 milyar.

Kasus ini kemudian bergulir dan Mujianto serta Rosihan kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada November 2017.

Status itu tertuang dalam surat No : B /1397/XI/2017/Ditreskrimum pada November 2017 yang menyatakan status terlapor sudah menjadi tersangka.

Mujianto dan Rosihan akhirnya resmi ditahan pada hari Rabu 31 Januari 2018 lalu dan didakwa melanggar Pasal 378 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana.

Beberapa hari berselang, penahanan Mujianto ditangguhkan penyidik dengan wajib lapor sambil menunggu berkas dinyatakan lengkap oleh kejaksaan.

Namun sejak ditangguhkan, Mujianto tidak pernah wajib lapor bahkan ketika dipanggil untuk dimintai keteranganya melengkapi petunjuk jaksa, Ketua Yayasan Tju Dji itu tidak mau datang.

Bahkan, Mujianto justru menyurati Presiden, DPR RI, Mabes Polri dan lain-lain yang menuding bahwa Poldasu tidak profesional dan memaksakan dirinya dijadikan tersangka.

Akhirnya, Poldasu menetapkan Mujianto als Anam menjadi DPO/R/159/IV/2018/Ditreskrimum Poldasu.

Sedangkan Tonny Wijaya (64) warga Jalan Rupat Medan dengan no DPO/80/II/2018/Ditreskrimum Poldasu.

Dia dipersalahkan melanggar Pasal 385 KUHPidana dan atau pasal 69 dan 70 UURI No 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang.

Tonny Wijaya dilaporkan oleh Kaswandi no; LP/011/I/2016/SPKT III tanggal 7 Januari 2016.

Dia dilaporkan karena mencaplok lahan untuk kepentingan umum menjadi tempat usaha yang dapat memperkaya diri sendiri di kawasan Sukaramai Medan. (rks)

 

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Loading...