oleh

Wara Sinuhaji : Pelaku Begal Harus Dikenai Efek Jera Sehingga Kota Medan Aman dan Kondusif

Medan (pewarta.co) – Kota yang aman dan nyaman merupakan dambaan bagi warga Medan. Tindakan tegas dilakukan aparat kepolisian dalam hal ini Reskrim Polrestabes Medan dibawah pimpinan Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. DR H. Dadang Hartanto, SH, SIK, MSi dan Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu, SH, SIK, MH terhadap pelaku tindak kriminal, khususnya begal, sebagai salah satu upaya memberi efek jera kepada pelakunya dan mewujudkan kota yang aman dan nyaman.

“Begal dengan kesadisannya yang kerap menimbulkan korban jiwa memang sudah sangat meresahkan masyarakat kota Medan. Untuk itu, perlu ada tindakan dari aparat hukum yang membuat para pelaku lainnya jera,” kata Pengamat Sosial Drs H Wara Sinuhaji MHum, Kamis (9/8/2018).

Praktisi pendidikan di Universitas Sumatera Utara ini berharap tembak di tempat bagi pelaku kejahatan oleh Tim Penanganan Gangguan Khusus, Curat, Curas, Curanmor dan Narkoba (Pegasus-3CN) bentukan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr H Dadang Hartanto SH SIK MSi dapat memberi efek jera.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Penaganan Gangguan Khusus (Pegasus) Polrestabes Medan menembak mati begal sadis, Afandi Simangunsong alias Bangun (37) karena melawan polisi menggunakan golok saat diringkus.

Sebelum ditembak, pelaku yang terkenal sadis ini merampok seorang wanita bernama Yunita di Jalan Mabar Kecamatan Medan Perjuangan pada 13 Desember 2017 lalu. M Ridho Padang (24), Raja Amin Siregar alias Raja (33) yang terlebih dulu ditangkap bernasib sama dengan Afandri karena menyerang anggota kepolisian. Komplotan Raja Amin cs yang terkenal sadis ini sudah 14 kali melakukan aksi perampokan dan selalu berhasil menggasak sepeda motor para korbannya.

Wara mengakui, peristiwa pembegalan di jalan terhadap pengemudi sepeda motor sudah lama dan belakangan ini sering terjadi. Dia melihat, kendati polisi sudah bertindak tegas menangani begal dengan melakukan tembak di tempat, namun sepertinya tidak membuat pelaku begal lainnya jera. Pasalnya, begal selalu saja ada walau sudah diberlakukan hukuman tegas.

“Tidak ada efek jera bagi para pelaku yang sepertinya meniru apa yang sudah dilakukan oleh yang lainnya. Sementara prilaku mereka semakin lama semakin sadis dan beringas, merampas harta korban bahkan membuat korbannya tewas,” tuturnya.

Tindakan tegas berupa tembak di tempat bagi pelaku begal, diharapkan Wara tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Menurutnya, polisi mengambil keputusan tembak di tempat itu setelah upaya preventif (pencegahan) dan penangkapan dilakukan tak berjalan akibat pelaku melakukan perlawanan atau melarikan diri dan membahayakan jiwa orang lain.

Tentunya, sambung Wara, itu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian agar tidak terjadi salah sasaran.

Menurut Wara, terjadinya peristiwa kejahatan itu akibat kurangnya imbauan yang menjadi tanggungjawab pemerintah kota.

“Harusnya, ada imbauan berhati-hati kepada masyarakat disampaikan melalui media massa dan kegiatan diskusi. Selain itu, masyarakat juga tidak memberi peluang dengan penampilan mencolok dan mengundang kejahatan,” tukasnya.

Pasalnya, kata Wara, ketika kejahatan itu terjadi masyarakat selalu menyalahkan polisi yang dianggap tidak mampu melindungi. Wara mengatakan, tidak setiap sudut kota diawasi oleh personil polisi. Untuk itu perlu kesadaran sendiri dari masyarakat agar tercipta rasa aman dan nyaman.

Meningkatnya jumlah masyarakat di kota Medan, sebut Wara, harus diikuti dengan meningkatnya jumlah personil dan tingkat keamanannya.

Wara juga menyayangkan sarana perkotaan yang dinilai masih kurang layak dan lengkap. Contohnya lampu jalan yang di beberapa tempat dalam kondisi rusak/mati sehingga bisa menimbulkan kesan rawan dan mengundang kejahatan. Padahal, retribusi untuk lampu jalan itu sudah ditarik dari masyarakat melalui rekening listrik. (gusti/red)

Facebook Comments

News Feed