oleh

Produktivitas Bawang Merah di Sumut Masih Rendah


Karo (pewarta.co)
– Sebagai salah satu komoditas unggulan utama di Sumatera Utara, permintaan bawang merah untuk konsumsi dan benih terus mengalami peningkatan. Namun, sentra pengembangan bawang merah, salah satunya di Kabupaten Karo, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara dengan produktivitas rata-rata masih rendah yakni mencapai 8 ton per hektar.

“Angka ini masih lebih rendah dari rata rata produksi di pulau Jawa,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pro­vinsi Sumatera Utara Demina Sitepu saat pashing out klaster bawang merah di Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Kamis (18/10/2018).

Hadir disitu Wakil Bupati Karo Corry Sebayang, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Karo Adison Sebayang, Camat Payung Jepta Tarigan, Sekdes Batu Karang Firdaus Bangun, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Tebing Latersia Budi Tarigan.
Pashing out tersebut menandakan pendam­pingan terhadap Poktan Tebing Latersia, Desa Batukarang, binaan BI itu telah memasuki tahap akhir. Baru-baru ini BI juga melakukan phasing out klaster bawang merah di Desa Silalahi Sabungan, Dairi.

Deputi Direktur KPw BI Sumut, Demina Sitepu menuturkan, pembinaan terhadap Poktan Tebing Latersia telah dilakukan selama empat tahun.

“Empat tahun Ialu, kelompok tani Tebing Latersia terpilih menjadi salah satu klaster binaan melalui program pengembangan UMKM Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Program pengembangan klaster bawang merah dilakukan secara bertahap dan multlyears, dari 2014-2017,” katanya.

Diungkapkannya, tahun 2016, merupakan tahun pengembangan program, dimana keberhasilan di tahun pertama diharapkan bisa mendorong kelompok tani binaan dan kelompok lain untuk melaksanakan teknologi budidaya bawang merah sesuai dengan praktek budidaya yang baik (GPA, Good Agriculture Practice).

“Guna melahirkan klaster yang mandiri dan berkelanjutan, maka pada tahun 2017, fokus program adalah pembentukan Lembaga Keuangan/koperasi. Dan ini terus kita kembangkan,” katanya.

Dalam rangka peningkatan produktivitas hasil dan peningkatan kompetensi petani anggota kelompok, kata Demina, Bank Indonesia memberikan bantuan baik berupa bantuan fisik melalui PSBI maupun bantuan teknis dalam bentuk pelatihan.

Beberapa bentuk pelatihan dimaksud antara lain workshop pengelolaan pupuk organik, pelatihan budidaya bawang merah. Pelatihan dan demplot penangkaran bawang merah dengan pelatihan budidaya bawang putih organik dan pengolahan pupuk serta pestisida organik berbasis integrated ecofarming, uji adaptasi dan uji varietas bawang putih secara organik dan terakhir adalah pelatihan pengendalian hama menggunakan light trap (lampu untuk menangkap hama).

“Untuk tahun ini, kelompok tani Tebing Latersia juga telah melakukan studi banding budidaya bawang merah dan produk turunannya serta mempelajari sistem resi pergudangan di Nganjuk, Jawa Timur,” katanya.

Sedangkan bantuan fisik yang pernah diberikan antara lain pembangunan rumah bawang, mesin ozonisasi dan set pengendali hama berupa light trap. Selain bantuan teknis dan bantuan fisik, Bank Indonesia juga melakukan koordinasi dengan BPSB, Pemerintah Kabupaten Karo dan Provinsi Sumatera Utara dalam program pengembangan sentra bawang merah di Kabupaten Karo. Selain itu intermediasi dengan Bulog untuk program pengendalian inflasi bawang merah melalui program operasi pasar.

Bank Indonesia melihat beberapa pencapaian yang telah dicapai oleh kelompok tani Tebing Latersia antara Iain produktivitas bawang merah kelompok pernah mencapai 15-20 ton/Ha. Saat ini kelompok telah mampu memproduksi benih bawang merah untuk kebutuhan penanaman di lahannya masing-masing dan dapat menyimpan hasil produksi bawang merah di rumah bawang dengan kapasitas simpan mencapai 20 ton.

BI Wilayah Sumut berharap, kerja sama yang baik ini dapat tetap terjalin dan klaster bawang Karo yang telah mandiri. Selanjutnya, klaster bawang kelompok tani Tebing Latersia akan dikembalikan ke Pemerintah Kabupaten Karo.
Sebelumnya, Ketua Poktan Tebing Latersia, Budi Tarigan menyampaikan rasa terima kasih kepada BI yang telah memberikan pendampingan dan bantuan kepada kelompok tani di daerahnya.

Diungkapkannya, produksi bawang di Kelompok Tani Tebing Latersia sudah mencapai 18 hingga 24 ton per hektare dari sebelumnya jauh di bawah angka itu.
Hingga saat ini anggota Kelompok Tani Tebing Latersia sudah sebanyak 52 orang dengan luas areal 23 hektare.

“Dengan kondisi cuaca saat ini yang terus hujan, produksi bawang berkurang 20 – 30 persen. Kalau cuaca mendukung, bisa mencapai 24 ton per hektar,” sebutnya.

Budi Tarigan menuturkan, pihaknya telah mengenal BI sejak tahun 2008, tapi baru pada 2014 mendapat binaan dari BI.
“Pascaerupsi Gunung Sinabung, kami mendatangi BI untuk meminta bantuan dan direspon dengan baik, sehingga kami yang kehilangan mata pencaharian bisa berusaha lagi,” ujarnya.

Menurut Budi, setelah dibina BI banyak keuntungan yang diperoleh Poktan Tebing Latersia.

“Nilainya tak terhingga. Banyak kali manfaatnya, terutama soal ilmu,” ucapnya.
Bank Indonesia, kata Budi, mendatangkan narasumber dari Brebes dan dirinya juga berkesempatan untuk mengikuti pelatihan dan melihat langsung produksi bawang di sentra bawang Indonesia di Brebes dan studi banding ke Nganjuk, Jawa Timur. Berdasarkan pelatihan dan studi banding itu, kata Budi, varietas bawang merah yakni Bauji, Maja, Nganjuk Jatim dinilai cocok untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Karo.

Budi mengungkapkan kendala yang dihadapi kelompok taninya terkait masalah pemasaran. Dengan Rp8 ribu per kilo ‘harga tolak’ ke pasar, menurutnya masih belum menguntungkan petani. Idealnya, kata dia, harga bawang merah yang dijual ke pasar itu berkisar Rp9.500 hingga Rp10 ribu per kilo, barulah mendapat untung sepadan. Menurutnya, kondisi banjir di daerah Jawa membuat harga bawang merah anjlok di Sumut.

Dirinya berharap, walau BI telah melakukan phasing out, namun tetap memonitoring kelompok taninya, setidaknya 3 bulan sekali.
“Kelompok Tani Tebing Latersia memang jalan terus setelah phasing out, namun kami minta BI tetap memonitoring,” harapnya. (gusti/red)

Facebook Comments

News Feed