oleh

Dies Natalis ke-66 USU Dihadiri Presiden RI

Medan (pewarta.co) – Dies Natalis Universitas Sumatera Utara (USU) tahun ini terasa lebih istimewa. Pasalnya, sidang terbuka dalam acara tunggal Dies Natalis ke-66 USU itu, Senin (8/10/2018) langsung dihadiri Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo (Jokowi) beserta Ibu Hj Iriana Joko Widodo.
“Belum pernah Dies Natalis USU sebelum-sebelumnya didatangi presiden. Oleh karena itu, patutlah seluruh civitas akademika USU histeris menyambut kedatangan Bapak Presiden,” ungkap Rektor USU Prof Dr H Runtung Sitepu SH MHum.
Dihadapan presiden, Prof Runtung menuturkan USU pernah mendapat peringkat 5 perguruan tinggi negeri se Indonesia. Dalam 2,5 tahun kepemimpinan dirinya, Runtung menyatakan peringkat USU dapat diperbaiki dari peringkat 38 menjadi 15.
“Tidak mudah untuk mengejar ketertinggalan. Kehadiran presiden di sini merupakan energi baru bagi kami untuk membangun lebih giat lagi universitas yang kita cintai ini,” kata rektor.
Kehadiran Presiden Jokowi di USU untuk menyampaikan orasi pada sidang terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-66 USU, di Gedung Auditorium USU, Padang Bulan memang disambut dengan gegap gempita.
Saat menyampaikan orasinya itu, Jokowi mengaku tak pernah masuk Kampus USU.
“Saya berkali-kali ke Medan tapi tak pernah masuk ke USU karena tak pernah tidak diundang,” aku Jokowi.
Pengakuan Jokowi itu kontan disambut suara riuh mahasiswa yang hadir.
“Hari ini saya kesini karena diundang dengan undangan resmi dari pak rektor. Jadi, saya berani masuk ke USU,” ujarnya.
Jokowi pada kesempatan itu mengapresiasi bantuan tim medis dan beragam bantuan lainnya yang disalurkan USU untuk membantu korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala.
“USU bersama pemerintah dan komponen bangsa ini membuat masyarakat di Sulawesi Tengah dan juga NTB menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Terkait banyaknya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan USU, menurut dia akan sangat berguna bagi kehidupan bangsa dan negara. Menurutnya, dalam situasi apapun perguruan tinggi akan menempati peran sentral dalam kehidupan berbangsa. Untuk itu presiden berharap perguruan tinggi dapat melahirkan karya-karya dan riset yang unggul guna menjawab tantangan zaman.
Presiden mengingatkan persaingan makin ketat antar negara. Kecepatan, kata presiden, merupakan kata kuncinya. “Yang cepat pasti akan mengalahkan yang lamban,” ujarnya.
Menurutnya, kecepatan akan terjadi di seluruh bidang atau lini.
“Hati-hati terhadap perubahan yang begitu cepat dan pasti akan menghampiri kita. Ini sudah terjadi,” ungkapnya.
Presiden memprediksi beberapa  pekerjaan akan hilang akibat pergeseran perubahan tersebut, tapi banyak juga bisnis-bisnis baru yang muncul. Contohnya, sekarang gamers sudah dijadikan sebagai profesi.
“Bayangkan saja, apa ada kerjaan yang main game tapi bisa menghasilkan income,” katanya.
Menurutnya generasi muda paling cepat menangkap peluang. Perguruan tinggi juga diharapkan mengembangkan program kewirausahaan yang akan melahirkan lapangan kerja. Pasalnya, walau mengalami pertumbuhan dan semakin bermunculan, namun berdasarkan Global Enterpreneur Index tahun 2017, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia menempati urutan 90 dari 137 negara.
Kepada rektor USU, Presiden Joko Widodo menitipkan pesan harus berani memunculkan fakultas atau program studi yang sesuai dengan visi kedepan.
Di akhir orasinya, Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi tidak hanya melahirkan lulusan yang menguasai iptek. Namun juga harus menanamkan integritas agar lulusan mencintai negara Indonesia untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat. (gusti/red)

Facebook Comments

News Feed